Sunday, August 30, 2009

23 Agst

Mg Biasa XXI : Yos 24:1-2a.15-17.18b; Ef 5:21-32; Yoh 6:60-69

"Apakah kamu tidak mau pergi juga?"

“Maju kena, mundur kena”, itulah kiranya yang menjadi motto Nordin M Top bersama anak buah yang telah direkrutnya. Mereka yang telah berhasil dikuasai oleh Nordin sungguh maju dan percaya kepadanya, sehingga rela untuk mati, menjadi korban bunuh diri. Namun, konon juga ada di antara mereka yang mengundurkan diri dari Nordin, karena berbagai alasan. Jika dicermati memang Nordin sungguh cerdas dan luar biasa, karena dapat meyakinkan orang sedemikian rupa sehingga orang yang bersangkutan rela mati dengan bunuh diri sambil meledakkan bom, yang mencelakakan banyak orang. Apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Nordin bagi para pengikutnya merupakan kekuatan luar biasa yang dapat mempengaruhi hidup mereka. Mereka rela meninggalkan isteri dan anak-anaknya serta keluarganya. Mungkin kata-kata atau tindakan yang dilakukan oleh Nordin sangat keras, dan kiranya sulit dipahami oleh banyak orang. Apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus juga dinilai keras oleh para pendengarNya, maka mereka berkata :”Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?"(Yoh 6:60), dan memang banyak orang, yang semula mengikuti Yesus, mengundurkan diri. Melihat banyak orang mengundurkan diri Yesus bertanya kepada para rasul: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yoh 6:67), dan Petrus atas nama para rasul menjawab: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."(Yoh 6:69-69).



“Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yoh 6:67).



Pertanyaan Yesus kepada para rasul ini kiranya baik kita pakai sebagai pertanyaan kepada diri kita masing-masing atau saudara-saudari kita, terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan yang telah dihayati dan diterimanya. Hidup terpanggil, entah sebagai suami-isteri, imam, bruder atau suster atau wadat/tidak menikah, kiranya sarat dengan tantangan, hambatan dan godaan yang dapat membuat orang tidak setia pada panggilan atau meninggalkannya. Berbagai tantangan, godaan dan rayuan duniawi rasanya telah membuat beberapa pastor, bruder, suster, bapak/ibu, pelajar, mahasiswa/, pekerja dst.. kurang setia pada panggilan dan tugas pengutusannya, atau bahkan mengundurkan diri dari panggilan dan tugas. Maka, meskipun ada ketidak-jelasan atau keragu-raguan, marilah kita meneladan Petrus, yang berkata :”Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah”.



Panggilan dan tugas pengutusan kita adalah berasal dari Allah, yang kita terima melalui saudara-saudari kita yang baik hati: sentuhan, sapaan dan kebersamaan yang kita alami. “Perkataan Tuhan” antara lain telah diterjemahkan ke dalam aneka janji yang pernah kita ikrarkan, antara lain janji baptis, dimana kita berjanji untuk “hanya mau mengabdi Tuhan saja dan menolak semua godaan setan”, maka marilah kita mawas diri perihal janji ini:

1) “Hanya mau mengabdi Tuhan saja”. Tuhan hidup dan berkarya dalam semua ciptaanNya, terutama dalam diri manusia, ciptaan terluhur dan termulia di dunia ini. Maka ‘mengabdi Tuhan’ antara lain berarti saling mengabdi atau melayani antar kita dimanapun dan kapanpun. Jika dalam hidup dan bekerja bersama kita dapat saling melayani dengan baik satu sama lain kiranya tidak ada seorangpun yang akan mengundurkan diri dari panggilan dan tugas pengutusan atau kewajibannya. Memang hidup atau bertindak melayani berarti harus bekerja keras tanpa kenal lelah dengan ceria, gembira, dinamis, cekatan, cermat, teliti, dst.. , dengan kata lain memang cukup berat. Namun ketika kita dapat selalu gembira dan ceria semuanya akan menjadi ringan adanya. Kebahagiaan sejati akan kita alami atau nikmati jika kita dapat melayani sesama dengan baik.

2) “Menolak semua godaan setan”. Godaan setan pada masa kini antara lain menggejala dalam aneka bentuk tawaran atau rayuan kenikmatan dunia yang terkait dengan harta benda/uang, seks, pangkat, jabatan atau kehormatan duniawi. Karena atau oleh harta benda/uang atau seks orang menjadi tidak setia pada panggilan dan pengutusan, antara lain dengan bekerja seenaknya dan korupsi. Orang yang melakukan hubungan seks bebas atau di luar nikah, pada umumnya yang bersangkutan juga tidak beres dalam hal pengurusan harta benda atau uang, dan dengan demikian juga dengan pekerjaan atau tugas pengutusan. Maka marilah kita tolak godaan setan yang menggejala dalam bentuk tawaran atau rayuan harta benda, uang atau seks, yang marak pada masa kini.



“Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat” (Ef 5:32 ).



Paulus menggambarkan ‘hubungan Kristus dan jemaat’ bagaikan hubungan antar suami-isteri yang baik, setia satu sama lain dalam saling mengasihi sampai mati. “Tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya” (Ef 5:29 ), demikian gambaran Paulus perihal hubungan suami-isteri yang baik dan setia. Bukankah dalam hal ini anda para suami-isteri punya pengalaman: saling mengasuh dan merawat tubuh masing-masing, sehingga menjadi satu tubuh dalam persetubuhan atau hubungan seks? Saling telanjang satu sama lain dan tidak ada yang bagian tubuh luar yang ditutupi, dan juga tiada malu, ragu-ragu maupun sedih. Hubungan yang terbuka, apa adanya, jujur, polos, dst. itulah yang terjadi antar suami-isteri.



Sebagai umat Allah atau orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk berhubungan mesra denganNya. Kita semua adalah anggota tubuh Kristus, yang memang berbeda satu sama lain, sebagaimana anggota tubuh kita juga berbeda satu sama lain. Sebagai sesama anggota tubuh kita dipanggil untuk saling mengasuh dan merawat dengan penuh kasih, lemah lembut dan rendah hati. Berbicara perihal ‘mengasuh dan merawat’ kiranya kita perlu mencermati pengasuh atau perawat yang baik, entah merawat manusia, binatang maupun tanaman. Pengalaman menunjukkan bahwa fungsi perawat di rumah sakit, yang mengasuh dan merawat para pasien setiap hari cukup menentukan proses penyembuhan pasien yang bersangkutan. Perawat yang baik memang selalu rendah hati, lemah lembut, ceria, penuh senyuman, cekatan, tanggap alias tidak pernah marah, menggerutu atau mengeluh ketika dimintai tolong oleh pasien atau harus merawat pasien yang cerewet atau ‘bawel’.



Sebagai tanda atau gejala bahwa kita berhubungan mesra dengan Tuhan berarti dalam hidup bersama kita dimanapun dan kapanpun senantiasa dijiwai oleh rendah hati, lemah lembut, ceria, penuh senyuman, cekatan dan tanggap, tidak mengeluh, menggerutu atau marah-marah, dan dengan demikian kebersamaan hidup kita senantiasa menarik dan memikat. Cara hidup dan bertindak yang demikian itu dapat menjadi bentuk ‘pewartaan ataui marketing’ dan kiranya merupakan bentuk utama dan terutama yang tak dapat digantikan dengan bentuk lain. Mereka yang melihat kebersamaan hidup kita akan tergerak untuk semakin berbakti kepada Tuhan atau memperdalam hidup beriman, dan kiranya dari hati dan mulutnya keluar kata-kata ini:"Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!”(Yos 24:16)



“Wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi.Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu; Ia melindungi segala tulangnya, tidak satu pun yang patah. Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman. TUHAN membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman” (Mzm 34:17-23)



Jakarta , 23 Agustus 2009












ingin berkomentar lebih jauh anda dapat mengirim email ke danielbaraparatu@rocketmail.com
Kalau ada komentar dari anda silahkan klik comments

22 Agts

“Barangsiapa terbesar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu”

(Rut 2:1-3.8-11;4:13-17; Mat 23:1-12)



“Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. .



Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Maria, Ratu, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Raja atau Ratu pada umumnya dilayani oleh banyak orang dan setiap kali memberi perintah kepada para pelayannya pasti langsung dikerjakan dengan baik. Juga ada raja atau ratu yang diktator, yang bertindak sewenang-wenang terhadap bawahan atau para pembantunya. Dalam arti tertentu fungsi raja atau ratu juga dilaksanakan oleh siapapun yang menjadi pimpinan dalam hidup bersama, maka dengan ini kami mendambakan untuk hidup dan bertindak dengan semangat melayani, sebagaimana juga dihayati oleh Bunda Maria, Ratu dan teladan hidup beriman, “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”, demikian sabda Yesus. Melayani berarti senantiasa membahagiakan dan meringankan beban bagi yang dilayani serta tidak “mengikat beban-beban berat lalu meletakkannya di atas bahu orang tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya”. Marilah kita bercermin pada para pelayan atau pembantu rumah tangga yang baik. Pelayan yang baik pada umumnya bekerja keras, rendah hati, ceria, gembira, dinamis, jarang atau tidak pernah mengeluh, menggerutu, marah-marah dst.. Keutamaan-keutamaan macam itu hendaknya dihayati oleh siapapun yang berfungsi sebagai pemimpin dalam hidup bersama dimanapun dan kapanpun. Secara organisatoris semangat melayani dalam diri pemimpin antara lain menghayati kepemimpinan partisipatif: banyak mendengarkan keluhan, dambaan, harapan, dst.. dari yang dipimpin serta melibatkan semua anggota dalam perencanan dan pelaksanaan aneka program dan kegiatan.

· “Dengarlah dahulu, anakku! Tidak usah engkau pergi memungut jelai ke ladang lain dan tidak usah juga engkau pergi dari sini, tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerjaku perempuan.Lihat saja ke ladang yang sedang disabit orang itu. Ikutilah perempuan-perempuan itu dari belakang. Sebab aku telah memesankan kepada pengerja-pengerja lelaki jangan mengganggu engkau. Jika engkau haus, pergilah ke tempayan-tempayan dan minumlah air yang dicedok oleh pengerja-pengerja itu."(Rut 2:8-9), demikian kata Boas, orang kaya raya, kepada Rut. Suatu perhatian penuh kasih saya dan belaskasih itulah yang terjadi dalam diri Boas terhadap Rut. Apa yang dilakukan oleh Boas kiranya dapat menjadi teladan bagi para ‘bos’ dimanapun dan kapanpun. Hendaknya mereka yang merasa menjadi ‘bos’ atau atasan senantiasa memperhatikan dengan penuh kasih sayang dan belas kasih kepada bawahan atau pembantunya. Seoptimal mungkin setiap anggota pernah memperoleh sentuhan, sapaan kasih dari ‘bos’, sehingga mereka merasa berada di dalam hati ‘bos’. Sebaliknya sang ‘bos’ juga menempatkan semua anggota atau bawahannya dalam hatinya, agar setiap saat dapat memperhatikan mereka. Sekiranya perhatian langsung dan secara phisik tidak mungkin, baiklah diusahakan secara spiritual atau rohani, yaitu dengan berdoa: mendoakan satu per satu mereka yang menjadi anggota atau bawahannya. Berdoa kiranya dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun. Baiklah para pemimpin, atasan atau bos, kami harapkan setiap hari mendoakan anggota, bawahan atau yang dimimpin, seperti seorang ibu yang tidak akan pernah melupakan anak-anaknya.



“Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN”

(Mzm 128:1-4). .

Jakarta, 22 Agustus 2009











ingin berkomentar lebih jauh anda dapat mengirim email ke danielbaraparatu@rocketmail.com
Kalau ada komentar dari anda silahkan klik comments

21 Agst

“Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”.

(Rut:1:1.3-6.14b-16.22; Mat 22:34-40)



“Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:24-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.



Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Pius X, Paus, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Di dalam hidup bersama dimanapun dan kapanpun, entah dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara atau beragana, ada aturan atau tatanan hidup yang diberlakukan dan harus dihayati atau dilaksanakan oleh semua warga yang ada di dalamnya. Aneka aturan atau tatanan hidup bersama hemat saya dibuat dan diundangkan atau diberlakukan dalam, demi dan karena kasih alias sebagai terjemahan ajaran kasih sebagaimana disabdakan oleh Yesus hari ini. Maka dalam rangka mengenangkan St.Pius X, Paus, kami mengajak dan mengingatkan siapapun yang merasa menjadi pemimpin di tingkat atau di wilayah manapun untuk dapat menjadi teladan dalam melaksanakan aneka aturan dan tatanan hidup yang dijiwai oleh cintakasih, dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga atau kekuatan. Mungkin hal ini perlu terjadi di dalam hidup bersama paling dasar, yaitu keluarga. Para orangtua atau bapak-ibu hendaknya menjadi teladan dalam melaksanakan aneka aturan dan tatanan hidup bagi anak-anaknya. Sekali lagi para bapak-ibu kiranya memiliki pengalaman untuk saling memberikan diri dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga atau kekuatan, yang antara lain memuncak dalam hubungan seksual sebagai perwujudan saling mengasihi. Para bapak-ibu juga memiliki pengalaman dalam mengasihi anak-anaknya. Ketika anak-anak memperoleh teladan dari orangtua dalam hal pelaksanaan aturan atau tatanan hidup, kiranya mereka kelak kemudian hari juga akan taat dan setia pada aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup dan panggilan pengutusannya. Saling mengasihi dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan atau tubuh merupakan panggilan dan tugas pengutusan kita semua sebagai orang beriman. “Segenap” berarti seutuhnya, maka kalau tidak utuh berarti sakit: sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi/bodoh dan sakit tubuh. Mereka yang sedang menderita sakit pada umumnya akan mengalami kesulitan dalam mengasihi. Marilah kita saling bekerjasama dan mengingatkan dalam menjaga kebugaran hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita, agar kita senantiasa siap sedia untuk saling mengasihi.

· "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku”(Rut 1:16), demikian kata Rut kepada Naomi, mertuanya. Apa yang dikatakan dan kiranya juga dilaksanakan oleh Rut ini kiranya dapat menjadi teladan bagi para isteri, termasuk juga ketika harus menjanda karena kematian suaminya. Sering terjadi bahwa relasi seorang ibu dengan menantunya perempuan kurang harmonis atau kurang baik alias tidak dapat hidup bersama dengan baik. Menantu perempuan sering diperlakukan sebagai pembantu atau pelayan oleh mertuanya perempuan. Rekan-rekan perempuan hemat saya dalam hidup sosial kemasyarakatan dapat menjadi symbol kasih dan kelemah-lembutan, karena secara psikososial memang lebih halus, lemah lembut daripada laki-laki. Memang juga ada perempuan yang hidup dan bertindak bagaikan singa ganas, yang kelaparan dan dengan demikian siap menerkam orang lain alias memarahi orang lain seenaknya. Semoga perbedaan suku atau bangsa tidak menjadi hambatan untuk hidup dan bertindak dalam kasih dan lemah lembut. Para menantu perempuan ketika mendapat desakan sebagaimana dialami oleh Rut dari mertuanya, hendaknya meneladan Rut dan tidak perlu marah-marah atau berlaku kasar. Allah itu hanya satu, maka jika kita beriman kepada Allah kiranya kebersamaan hidup kita dimanapun dan kapanpun akan saling mengasihi dan dengan demikian terjadilah persaudaraan atau persahabatan sejati.



“Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar.TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya” (Mzm 146:5-9)



Jakarta, 21 Agustus 2009 .










ingin berkomentar lebih jauh anda dapat mengirim email ke danielbaraparatu@rocketmail.com
Kalau ada komentar dari anda silahkan klik comments

20 Agst

“Bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?”

(Hak 11:29-39a; Mat 22:1-14)

“Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."(Mat 22:1-14),demikian kutipan Warta Gembira hari ini



Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Bernardus, Abas dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Hidup beragama diharapkan setia pada ajaran agama yang bersangkutan, menghayatinya dalam hidup sehari-hari sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusannya. Namun jika diperhatikan kiranya cukup banyak orang yang tidak setia menghayati ajaran agama yang terkait, dengan kata lain orang tidak layak disebut sebagai orang beragama, “tidak mengenakan pakaian pesta”. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk setia pada ajaran agama, atau meneladan St.Bernardus, yang meskipun lemah phisiknya, bekerja keras dan dengan rendah hati memperbaiki cara hidup para anggota Lembaga Hidup bakti atau para biarawan dan biarawati. ‘Pakaian pesta’ macam apa yang diharapkan kita pakai atau kenakan? Secara liturgis antara lain kita diharapkan setia berdoa atau beribadat setiap hari, dan tentu saja kemudian menghayati atau melaksanakan isi doa tersebut dalam cara hidup dan cara bertindak. Sebagai contoh , sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kita diajarkan doa Bapa Kami. Dalam doa Bapa Kami ada kata-kata sebagai berikut:” Ampunilah kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami”. Marilah kita hidup saling mengampuni satu sama lain. Hendaknya tidak mengingat-ingat kesalahan orang lain, sebagaimana kesalahan kita pun juga tidak pernah diingat-ingat orang lain. Mengingat kesalahan orang lain pada umumnya akan berkembang menjadi ‘membunuh orang’ tersebut atau melecehkan dan merendahkannya alias melanggar hak asasi manusia. Marilah kita dengan rendah hati saling mengampuni dan mengasihi, sebagai tanda bahwa kita sungguh ‘berpakaian pesta’ sebagai orang beragama atau beriman.

· "Bapa, jika engkau telah membuka mulutmu bernazar kepada TUHAN, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu, karena TUHAN telah mengadakan bagimu pembalasan terhadap musuhmu, yakni bani Amon itu.”(Hak 11:36 ), demikian kata puteri Yefta, yang masih gadis, kepada Yefta, ayahnya. Yefta bernazar kepada Tuhan bahwa siapapun yang ia jumpai pertama kali akan dipersembahkan kepada Tuhan, dan ternyata yang ditemui pertama kali adalah anak gadisnya. Puteri Yefta pun tidak menolak untuk menjadi persembahan kepada Tuhan. Maka dengan ini kami mendambakan pada para gadis atau remaja putri untuk berani mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Sebelum menikah hendaknya tetap perawan alias tidak mengadakan hubungan seks dengan orang lain, dan syukur anda juga tergerak untuk mempersembahkan diri sebagai suster atau birawati. Keperawanan seorang gadis kiranya merupakan sesuatu yang sangat berharga, maka hendaknya jangan dilecehkan. Tentu saja untuk itu perlu diingat: (1) rekan-rekan remaja putri hendaknya tidak menghadirkan sedemikian rupa sehingga merangsang lelaki hidung belang untuk bertindak jahat, sedangkan (2) rekan-rekan remaja putra ketika melihat gadis cantik hendaknya menghormatinya serta tidak melecehkan, atau lalu berpikiran jorok. Jauhkan aneka macam omongan, pikiran dan cara hidup yang jorok dan porno.



“Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku." Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN” (Mzm 40:7-10)

Jakarta, 20 Agustus 2009












ingin berkomentar lebih jauh anda dapat mengirim email ke danielbaraparatu@rocketmail.com
Kalau ada komentar dari anda silahkan klik comments

19 Agt

“Iri hatikah engkau karena aku murah hati?”

(Hak 9:6-15; Mat 20:1-16)

"Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir." (Mat 20:1-16), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.



Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Irihati memang pada umumnya menimbulkan ketegangan hidup bersama yang cukup merepotkan. Sikap mental irihati biasanya muncul karena orang berpedoman pada aturan yuridis melulu dan kurang memperhatikan iman atau cintakasih; dengan kata lain orang irihati tidak/kurang beriman dan tidak tahu akan cintakasih, atau kemungkinan yang bersangkutan merasa kurang/tidak dikasihi. Orang irihati pada umumnya juga merasa diri sebagai orang yang terpenting atau utama, sehingga minta pelayanan khusus. Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk hidup bermurah hati, artinya jual murah hatinya alias memperhatikan siapapun tanpa pandang bulu. Dengan kata lain kita di dalam kehidupan bersama dimanapun dan kapanpun dipanggil untuk saling memperhatikan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga atau kekuatan. Kita dipanggil untuk saling memberikan diri, dan rasanya hal ini pertama-tama dan terutama hendaknya terjadi di dalam keluarga dengan teladan dari bapak-ibu, yang hemat saya telah memiliki pengalaman mendalam untuk saling memberikan diri. Biasakan dan didiklah anak-anak anda untuk bermurah hati dengan sesamanya sedini mungkin, mulai di dalam keluarga dan kemudian diperdalam dan diperluas di sekolah serta dalam aneka pergaulan di masyarakat.

· “Jika kamu sungguh-sungguh mau mengurapi aku menjadi raja atas kamu, datanglah berlindung di bawah naunganku; tetapi jika tidak, biarlah api keluar dari semak duri dan memakan habis pohon-pohon aras yang di gunung Libanon”(Hak 9:15), demikian jawab semak duri kepada pohon-pohon. Semak duri kiranya lebih kecil daripada pohon, maka rasanya sungguh aneh dan tidak mungkin pohon berlindung di semak duri. Kutipan diatas memang hanya kiasan dan bukan kenyataan, maka baiklah kita renungkan atau refleksikan. Bahwa yang besar minta perlindungan dari yang kecil hemat saya juga terjadi dalam hidup sehari-hari, antara lain para pejabat atau petinggi kalau pergi minta pengawalan khusus, entah dilakukan oleh polisi atau pengawal lainnya, anak-anak dijadikan tameng dalam permusuhan atau peperangan, dst… Rakyat kecil memang sering kurang memperoleh perhatian di masa biasa, tetapi di saat-saat yang genting dan membahayakan pada umumnya rakyat kecil yang menjadi pejuang dan pelindung. Noordin M Top misalnya, ia selalu mencari perlindungan dari anak buah maupun orang-orang kecil dan sederhana dalam rangka melarikan diri atau bersembunyi. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk memperhatikan mereka yang kecil, lemah, miskin dan tak berdaya. Kami juga berharap bahwa mereka yang miskin, kecil, lemah dan tak berdaya menjadi ‘wahana pemerasan demi keuntungan diri sendiri’ sebagaimana telah dilakukan oleh sementara orang atau golongan. Atas nama orang miskin, kecil dan tak berdaya mencari sumbangan dan hasilnya untuk diri sendiri, begitulah yang sering terjadi. Kami juga mengingatkan dan mendambakan bahwa anak-anak kecil di dalam keluarga memperoleh kasih dan perhatian yang memadai dari orangtuanya, lebih-lebih dalam masa/usia balita.



“TUHAN, karena kuasa-Mulah raja bersukacita; betapa besar kegirangannya karena kemenangan yang dari pada-Mu! Apa yang menjadi keinginan hatinya telah Kaukaruniakan kepadanya, dan permintaan bibirnya tidak Kautolak. Sebab Engkau menyambut dia dengan berkat melimpah; Engkau menaruh mahkota dari emas tua di atas kepalanya.Hidup dimintanya dari pada-Mu; Engkau memberikannya kepadanya, dan umur panjang untuk seterusnya dan selama-lamanya “(Mzm 21:2-5)



Jakarta, 19 Agustus 2009










ingin berkomentar lebih jauh anda dapat mengirim email ke danielbaraparatu@rocketmail.com
Kalau ada komentar dari anda silahkan klik comments

18 Agst

“Lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

(Hak 6:11-24a; Mat 19:23-30)

“Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin." Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."(Mat 19:23-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.



Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Orang yang kaya raya akan harta benda atau uang pada umumnya merasa tidak aman, maka dengan berbagai cara berusaha melindungi diri dan kekayaannya dari aneka macam ancaman dan gangguan. Ada yang minta pengawalan ‘body guard’ kemanapun ia pergi, ada yang membangun tembok kuat dan pintu besi berlapis, dst.. Dengan kata lain mereka sering merasa tidak bebas bergerak kemanapun. Jika ada orang datang kepadanya sedikit banyak ada rasa curiga, jangan-jangan mengganggu kekayaannya, dan dengan demikian yang berangkutan lebih menutup diri. Sebaliknya orang miskin atau gelandangan pada umumnya bebas merdeka bepergian kemana saja, tidur di sembarang tempat, beratapkan langit dengan penerangan bintang-bintang serta beralaskan tanah atau rumput, dan dengan demikian kiranya mereka lebih terbuka terhadap aneka macam kemungkinan dan kesempatan. Mereka ‘lebih mudah bagaikan seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah”, mereka lebih dirajai atau dikuasai oleh Allah daripada harta benda atau uang. Maka kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk menghayati keutamaan ‘kemiskinan’, yaitu keterbukaan terhadap Penyelenggaraan Ilahi dan secara konkret dalam hidup sehari-hari terbuka terhadap sapaan, sentuhan, nasihat, jeritan, dst.. dari sesama atau saudara-saudari kita. Dengan kata lain kami mengajak kita semua untuk hidup sosial dan saling memperhatikan serta melayani, sehingga kita semua memiliki banyak saudara, sahabat dan kawan. Marilah kita hayati sabda Yesus bahwa “setiap orang yang karena namaKu meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal”

· “Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis”(Hak 6:16), demikian firman Allah kepada Gideon. Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita, bukan untuk berperang melawan orang lain, melainkan dalam menghadapi aneka macam masalah, tantangan dan hambatan dalam kehidupan kita. Kita hadapi dan selesaikan aneka masalah, tantangan dan hambatan dalam penyertaan Allah artinya dalam iman. “Dengan semangat iman kristiani kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”, demikian isi asas aneka lembaga pelayanan masyarakat seperti pendidikan, sosial dan kesehatan. Dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara pada masa kini sarat dengan tantangan, masalah dan hambatan, maka marilah semuanya kita sikapi dan hadapi dalam dan oleh iman. Kita lebih mengandalkan Penyelenggaraan Ilahi daripada aneka macam sarana-prasarana duniawi, dan hal ini antara lain dapat kita wujudkan dengan kerjasama dengan mereka yang berkehendak baik. Kami percaya bahwa banyak orang yang berkehendak baik, yang dapat diajak untuk bekerjasama dalam menghadapi aneka masalah, tantangan dan hambatan. Dengan kata lain marilah kita bergotong-royong dalam menghadapi aneka masalah, tantangan dan hambatan; hendaknya semua berpartisipasi dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sehingga kesejahteraan sosial bagi seluruh bangsa segera menjadi nyata atau terwujud. Kami berharap para petinggi, pemimpin atau tokoh-tokoh hidup bersama dapat menjadi teladan dalam hal bekerjasama atau bergotong-royong.



“Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan” (Mzm 85:11-14).



Jakarta, 18 Agustus 2009











ingin berkomentar lebih jauh anda dapat mengirim email ke danielbaraparatu@rocketmail.com
Kalau ada komentar dari anda silahkan klik comments

17 Agst

HR KEMERDEKAAN RI: Sir 10:1-8; 1Ptr 2:13-17; Mat 22:15-21

"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Para bapa bangsa Indonesia yang berpartisipasi dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia kiranya adalah pribadi-pribadi yang cerdas beriman, terdidik dan beriman. Proklamasi Kemerdekaan telah dinyatakan 64 tahun yang lalu, dengan kata lain secara manusia boleh dikatakan telah dewasa, namun jika dicermati apa yang ada di Indonesia saat ini kiranya masih ada hal-hal yang boleh dikatakan dewasa, yaitu dalam hal pendidikan atau pembinaan manusia, yang nampak masih maraknya aneka macam bentuk kebejatan moral seperti korupsi, tawuran, permusuhan serta kebodohan yang berdampak pada kemiskinan. Panji-panji Negara kita adalah bendera berwarna ‘merah putih’ yang kiranya berarti keberanian dalam berjuang dan berkorban serta hidup dan bertindak dalam kesucian. Maka jika mencermati suasana kehidupan saat ini rasanya ‘perjuangan, pengorbanan dan kesucian’ kurang atau tidak menjiwai kehidupan warganegara pada umumnya maupun para pejabat atau petinggi Negara khsusunya. Mereka yang katanya menjadi wakil rakyat sering juga hanya mencari kesenangan pribadi serta mengusahakan kekayaan atau harta benda demi keluarganya sendiri. Para pejabat ketika bersumpah jabatan dalam rangka mengawali tugas dan jabatannya ketika mulai menjabat mulai melakukan koropsi seenaknya, dst.., Para Era Reformasi dan Desentralisasi saat ini juga terjadi desentralisasi korupsi, bahkan wilayah-wilayah yang konon diwarnai agama tertentu justru korupsi lebih besar daripada wilayah lain. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan atau merayakan Hari Raya Kemerdekaan RI ke 64 ini kami mengajak anda sekalian mawas diri dengan bantuan sabda di bawah ini.



“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."(Mat 22:21 )

Sabda Yesus di atas ini kiranya telah dicoba dibahasakan secara lain oleh salah seorang pahlawan Indonesia , yaitu Mgr.A.Soegijapranata SJ, alm. dengan .motto :”Jadilah 100 % warganegara dan 100% katolik (beragama)”. Maka baiklah kita renungkan kutipan Sabda Yesus di atas bersama dengan motto Mgr. A.Soegijapranata SJ tersebut dalam rangka mengenangkan Kemerdekaan Negara kita.

1) “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar”. Di dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ada aneka macam aturan dan tatanan hidup bersama yang harus kita hayati atau laksanakan. Jika dicermati rasanya masih cukup banyak orang yang tidak setia atau kurang tertib dalam melaksanakan aneka tatanan atau aturan yang terkait dengan apa yang seharusnya dilakukan di dalam hidup dan tugas sehari-hari, entah dimasyarakat, di tempat kerja atau jalanan. Menjadi warganegara yang baik berarti senantiasa mentaati dan melaksanakan aneka aturan dan tatanan yang terkait, dan kiranya untuk itu para petinggi atau pejabat hendaknya menjadi teladan.

Salah satu masalah yang masih memprihatinkan masa kini adalah korupsi, yang terkait dengan keutamaan jujur, disipilin, tertib dst..”Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan” (Prof Dr. Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997,hal 17). Kecurangan masih terjadi di berbagai tingkat atau bidang kehidupan bersama masa kini, dan rasanya hal itu mulai terbiasa selama yang bersangkutan masih belajar di sekolah, yaitu dengan kebiasaan menyontek dalam ulangan maupun ujian. Maka kami berharap kejujuran ditanamkan sedini mungkin bagi anak-anak, sejak di dalam keluarga; dan di sekolah-sekolah diberlakukan ‘dilarang menyontek dalam ulangan maupun ujian’.

2) “Berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”. Sabda ini kiranya terkait dengan kehidupan beragama kita masing-masing. Hidup dan segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai serta nikmati sampai saat ini adalah anegerah Allah, maka selayaknya kita hidup dan bertindak dijiwai oleh syukur dan terima kasih kepada Allah, dan hal itu juga kita wujudkan dalam bersyukur dan berterima kasih kepada saudara-saudari kita. Dengan kata lain sebagai umat beragama hendaknya kita saling bersyukur dan berterimakasih satu sama lain “Bersyukur adalah sikap dan perilaku yang tahu dan mau berterima kasih kepada Tuhan atas hikmat dan karunia yang telah dilimpahkanNya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pusataka- Jakarta 1997, hal 13). Sekali lagi hidup bersyukur ini hendaknya sedini mungkin dibinakan dan dibiasakan bagi anak-anak sedini mungkin dan tentu saja dengan teladan dari orangtua atau bapak-ibu.



“Inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja”(1Ptr 2:15 -17)



Hidup sebagai orang merdeka berarti menjadi “hamba Allah” dan senantiasa berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun. Menjadi “hamba Allah” berarti senantiasa taat pada kehendak Allah di dalam hidup sehari-hari: bekerja keras tanpa kenal lelah dalam berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun. “Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10). “Sesuatu” yang dimaksudkan disini adalah perbuatan baik atau hal-hal yang positif.



Sebagai orang merdeka kita juga dipanggil untuk tidak menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan. Hemat saya hal ini selayaknya dilakukan dan disebarluaskan oleh para penegak hukum, misalnya polisi dan mereka yang bekerja dalam aneka tugas pengadilan. Polisi kiranya dengan bebas merdeka dapat kemana saja, maka hendaknya jangan menyalahgunakan kebebasan tersebut untuk berbuat jahat atau menutupi aneka kejahatan. Di dalam pengadilan juga sering terjadi usaha untuk menutupi atau menyelubungi kejahatan-kejahatan, yang didukung oleh uang atau orang-orang berduit/kaya. “Homatilah semua orang”, demikian pesan Petrus. Polisi dan penegak hukum hemat saya dapat bertemu dengan semua orang/warganegara, maka kami berharap mereka juga dapat menjadi teladan dalam menghormati sesama manusia, menjunjung tinggi harkat martabat manusia atau hak-hak asasi manusia. Jauhkan aneka macam bentuk kekerasan ketika anda sedang melaksanakan tugas entah di tengah-tengah masyarakat maupun di tempat pengadilan.



“Takutlah akan Allah”. Peringatan atau nasihat ini merupakan ajakan bagi kita untuk beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang kita lakukan. Ketika kita berbuat jahat, mungkin tidak ada satu orangpun yang tahu, tetapi Allah mengetahui. Maka jika kita sungguh beriman, marilah kita tidak berbuat jahat sedikitpun dan senantiasa berbuat baik atau melakukukan hal-hal yang positif di dalam hidup kita sehari-hari. Semoga sila kelima dari Pancasila, Keadilan sosial bagi seluruh bangsa, segera menjadi nyata atau terwujud dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.



“Mataku tertuju kepada orang-orang yang setiawan di negeri, supaya mereka diam bersama-sama dengan aku. Orang yang hidup dengan cara yang tak bercela, akan melayani aku. Orang yang melakukan tipu daya tidak akan diam di dalam rumahku, orang yang berbicara dusta tidak akan tegak di depan mataku” (Mzm 101:6-7)



Jakarta , 17 Agustus 2009











ingin berkomentar lebih jauh anda dapat mengirim email ke danielbaraparatu@rocketmail.com
Kalau ada komentar dari anda silahkan klik comments

16 agst

Mg Biasa XX : Ams 9:1-6; Ef 5:15-20; Yoh 6: 51-58

“Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."

“Ketika masih anak-anak dan tinggal di desa mau makan enak tidak ada, dan setelah dewasa seperti saat ini serta menjadi pastor cukup banyak makanan enak tersedia tetapi tidak boleh makan”, demikian komentar salah seorang rekan komunitas. Maklum rekan kami tersebut sesuai dengan hasil laboratorium rumah sakit berkolesterol tinggi alias terlalu memiliki lemak jahat cukup banyak di dalam darahnya. Maka demi masa depan alias hidup lebih panjang yang bersangkutan harus bermatiraga dalam hal makanan dan minuman. Makanan-makanan yang enak pada masa kini memang pada umum berlemak dan tentu saja kurang sehat atau baik bagi mereka yang berkolesterol tinggi. Cukup banyak orang kiranya mendambakan berusia panjang alias jangan segera mati atau dipanggil Tuhan, maka untuk itu mereka dengan berbagai upaya dan usaha berusaha agar dirinya tetap sehat wal’afiat, segar-bugar alias tidak mudah jatuh sakit, agar diperkenankan hidup di dunia ini lebih lama. Jika orang berhasil dalam mengusahakan hidup yang baik, sehat dan segar-bugar di dunia ini kiranya yang bersangkutan untuk mendambakan atau berharap kelak ketika dipanggil Tuhan alias setelah meninggal dunia akan hidup selama-lamannya, mulia di sorga bersama Tuhan.



“Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."(Yoh 6:58)



“Roti” yang dimaksudkan di dalam Warta Gembira hari ini bagi kita masa kini kita imani dalam rupa ‘roti tak beragi’ yang setiap kali kita terima di dalam Perayaan Ekaristi, yaitu ‘komuni suci’. Setiap kali menyambut komuni kita mengatakan ‘Amin’ atas kata-kata dari pemberi komuni “Tubuh Kristus”, yang berarti kita mengimani dan menghayati bahwa yang kita terima adalah ‘Tubuh Kristus’. Makanan sedikit banyak atau secara dominan menentukan kwalitas pribadi yang bersangkutan, apa yang biasa dimakan akan menentukan kwalitas pribadi yang bersangkutan. Maka jika kita menyantap ‘Tubuh Kristus” berarti hidup dan cara bertindak kita dijiwai oleh Yesus Kristus, kita memiliki cara hidup dan cara bertindak sesuai cara hidup dan cara bertindak Yesus Kristus, dan dengan demikian kelak kita layak untuk menikmati hidup selama-lamanya di sorga.



Jika kita meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus Kristus, maka kita tidak hanya akan hidup selamanya di sorga tetapi selama hidup di dunia ini kita juga tetap hidup dengan gairah, ceria, dinamis, penuh harapan, dst.. meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan; kita dapat mengatasi atau mengalahkan aneka macam godaan atau rayuan setan yang merajalela di sana-sini dalam kehidupan masa kini. Dengan kata lain kita memiliki budi pekerti luhur, yang antara lain menghayati keutamaan-keutamaan “bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet “(Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997)



Kami berharap dan mendambakan para orangtua atau bapak-ibu dapat menjadi teladan hidup berbudi pekerti luhur bagi anak-anaknya. Mungkin anda juga akan bertanya “Bagaimana mungkin?”. Ingat bahwa anda telah saling berjanji untuk saling mengasihi baik dalam untung dan malang, sehat maupun sakit sampai mati, maka agar anda menjadi mungkin sebagai teladan berbudi pekerti luhur bagi anak-anak anda, hendaknya anda saling membantu dan mengingatkan jika di antara anda lalai dalam menghayati janji tersebut. Hendaknya anda sungguh bekerjasama atau bergotong-royong dalam menjadi teladan berbudi pekerti luhur. Anak-anak hendaknya sedini mungkin dilibatkan atau diajak untuk berpartisipasi di dalam Perayaan Ekaristi, dan ketika saat menyambut komuni suci mohonkan berkat bagi anak anda melalui yang menerimakan komuni suci. Kebersamaan anda dalam satu keluarga dalam berpartisipasi di dalam Perayaan Ekaristi akan menjadi pengalaman yang indah bagi anak-anak anda dan tentu saja juga bagi anda berdua sendiri.



“Janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati”(Ef 5:17 -19)



Kita semua dipanggil untuk “bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan dengan segenap hati” baik di dalam ibadat maupun hidup sehari-hari, dan rasanya terutama dan pertama-tama di dalam hidup sehari-hari. Ibadat atau doa dan kerja bagaikan mata uang bermuka dua, sebagaimana dikatakan dalam sebuah motto “Ora et labora” = Berdoa dan bekerja. Doa menjiwai kerja dan kerja memperdalam hidup doa. Dengan kata lain semakin mendunia, semakin berpartisipasi dalam seluk-beluk duniawi hendaknya semakin beriman dan mendalam dalam doa-doanya.



Dalam hidup, bekerja atau sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun diharapkan senantiasa dalam keadaan gembira dan ceria. Di dalam kegembiraan dan keceriaan ketika harus menghadapi tantangan, masalah dan hambatan pasti dapat menemukan kesempatan atau kemungkinan untuk mengatasi dan menyelesaikannya. Kegembiraan dan keceriaan yang ada adalah dalam dan bersama Tuhan, karena Tuhan senantiasa hidup dan bekerja dalam diri kita yang lemah dan rapuh, maka tantangan, masalah dan hambatan macam apapun pasti akan dapat kita atasi atau selesaikan. Pada umumnya orang yang senantiasa gembira dan ceria juga memiliki keteguhan hati.



“Selama kita memiliki kemauan, keuletan, dan keteguhan hati, besi batangan pun bila digosok terus-menerus, pasti akan menjadi sebatang jarum …Miliki keteguhan hati” , demikian salah satu motto dari Bapak Andrie Wongso, promoter Indonesia . Keteguhan hati rasanya merupakan salah satu bentuk keutamaan dari penghayatan hidup yang penuh dengan Roh, yang bersifat abadi atau kekal. Berapa lama menggosok besi batangan sehingga menjadi sebatang jarum? Sulit dijawah dan dibayangkan. Soal gosok-menggosok ini kiranya perlu dan selayaknya dihayati oleh para orangtua atau bapak-ibu di dalam mendidik dan mendampingi anak-anaknya. Bekerjasamalah sebagai orangtua/bapak-ibu dalam mendidik dan mendampingi anak-anak anda, ‘gosok terus’ anak-anak anda dengan kemauan, keuletan dan keteguhan hati agar mereka tumbuh berkembang menjadi pribadi cerdas spiritual atau berbudi pekerti luhur. Orangtua atau bapak-ibu adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya, sedangkan berbagai pendidikan formal dan informal di luar keluarga merupakan bantuan bagi para orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Maka sebagai pendidik utama dan pertama, kami berharap para bapak-ibu atau orangtua dapat menjadi teladan dalam hal kemauan, keuletan dan keteguhan hati.



“Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik. Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu! Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu; jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya” (Mzm 34:10-15)



Jakarta , 16 Agustus 2009 .












ingin berkomentar lebih jauh anda dapat mengirim email ke danielbaraparatu@rocketmail.com
Kalau ada komentar dari anda silahkan klik comments

15 Agst

“Janganlah menghalangi mereka datang kepadaKu”

(Yos 24:14-29; Mat 19:13-15)



“Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ” (Mat 19:13-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Yang terbesar dan terhormat di dalam Kerajaan Allah atau hidup beriman dan beragama adalah mereka yang tersuci, bukan karena bergelar sarjana, doktor atau professor. Jika kita jujur mawas diri kiranya kita akan mengakui atau mengimani bahwa anak-anak lebih suci daripada orantuanya atau orang-orang dewasa, mengingat dan memperhatikan bahwa kita semakin tambah usia dan berpengalaman pada umumnya juga bertambah dosanya. Maka kiranya dengan mudah dapat kita mengerti bahwa di hadapan para murid sambil menunjuk anak-anak kecil Yesus bersabda: “Orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga”. Maka baiklah kita senantiasa menghormati dan menjunjung tinggi anak-anak kecil alias mengasihi mereka dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan tubuh, dan secara konket mendidik dan mendampingi mereka agar tumbuh berkembang sebagai pribadi yang cerdas beriman. Untuk itu di dalam anggaran hendaknya bidang pendidikan anak-anak memperoleh alokasi anggaran, entah uang/dana atau tenaga yang memadai. Tidak memperhatikan, mendidik dan membina anak-anak dengan baik berarti kita menyengsarakan masa depan mereka atau bahkan sebenarnya kita pelan-pelan akan sengsara dan seterusnya menderita sengsara sampai mati. Secara khusus kami mengingatkan dan mengajak para orangtua atau bapak-ibu untuk sungguh mengasihi anak-anaknya selama masa balita, misalnya: para ibu menyusui anak-anaknya paling tidak selama satu tahun, syukur lebih dari satu tahun, selama masa balita anak-anak hendaknya bapak dan ibu cukup boros waktu dan tenaga bagi anak-anaknya, dst.. .Salah satu bentuk mengasihi memang adalah berani memboroskan waktu dan tenaga bagi yang terkasih, yang dikasihi. Sekali lagi saya ingatkan pada orangtua atau suami-isteri untuk mawas diri: bukankah ketika anda dalam masa pacaran dan tunangan sungguh saling memboroskan waktu dan tenaga anda? Teruskan atau lanjutkan hal itu terhadap anak-anak anda!

· “Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia” (Yos 24:14a) Beribadah kepada Tuhan dengan ikhlas dan setia hendaknya kita hayati setiap hari. Secara liturgis berarti tidak melupakan doa-doa harian, misalnya doa pagi dan malam, doa akan dan sesudah makan dst.; setiap minggu berpatisipasi dalam ibadat/misa kudus dengan khidmat. Dalam hal doa harian kiranya kita di Indnnesia sangat dibantu oleh suara ‘adzan’ dari masjid, surau atau langgar, ajakn untuk berdoa. Tenttu saja berdoa saja tidak cukup, sebagai orang yang beribadah atau beriman kepada Tuhan kita harus menghayati ibadah atau iman kita dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Iman tanpa perbuatan berarti mati, demikian kata rasul Yakobus. Keunggulan hidup beriman atau beribadah terletak dalam penghayatan bukan upacara liturgis. Marilah kita hayati hidup dan kerja kita sebagai ibadah kepada Tuhan, dan dengan demikian rekan hidup dan bekerja adalah rekan beribadah, tempat dan sarana kerja dan hidup adalah tempat dan sarana ibadah, suasana hidup dan kerja adalah suasana ibadah. Bukankah ketika kita beribadah bersikap hormat, rendah hati dan bersababat? Maka dalam hidup dan kerja setiap hari selayaknya kita saling menghormati dan rendah hati sehingga terjadilah persahabatan sejati dalam hidup dan kerja. Jauhkan dan berantas aneka bentuk pelecehan atau penghinaan terhadap orang lain, antara lain marah. Menggerutu, mengeluh dan marah hemat saya merupakan bentuk pelecehan terhadap yang lain, yang kita marahi, dan dengan demikian melanggar hak-hak azasi dan cintakasih. Persaudaraan, persahabatan sejati kiranya menjadi dambaan atau kerinduan semua orang, demikian juga kerjasama dalam bekerja atau mengusahakan sesuatu demi kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.



“Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah”(Mzm 16:5.7-8).



Jakarta, 15 Agustus 2009












ingin berkomentar lebih jauh anda dapat mengirim email ke danielbaraparatu@rocketmail.com
Kalau ada komentar dari anda silahkan klik comments

14 Agst

"Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"

(Yos 24:1-13; Mat 19:3-12)

“Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."(Mat 19:3-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Maximilianus Maria Kolbe, imam dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Hidup setia pada panggilan, tugas pengutusan atau kewajiban memang tidak mudah, dan pada umumnya orang ingkar janji seenaknya. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24). Maximilianus Maria Kolbe sebagai imam sungguh setia pada panggilan dan pengutusannya, bahkan ia sampai rela mempersembahkan diri sebagai pengganti seseorang yang harus dihukum mati, mengingat dan mempertimbangkan bahwa orang yang harus dihukum mati tersebut memiliki isteri dan anak-anak yang membutuhkan kasih dan pendampingannya. Memang sulit dimengerti apa yang ia lakukan dan hanya dapat dimengerti dalam iman atau kasih karunia Allah. Kita semua mengaku diri sebagai orang beriman, maka marilah kita hayati kasih karunia Allah yang menyertai hidup kita agar kita setia pada iman, panggilan, tugas pengutusan atau kewajiban kita masing-masing. Rasanya dalam hal kesetiaan ini kesaksian atau keteladanan para bapak-ibu atau suami-isteri sangat diharapkan; apa yang dialami oleh orangtua/bapak-ibu akan sangat berpengaruh pada anak-anaknya. Maka kami berharap dan mendambakan anda semua yang hidup berkeluarga untuk tetap setia saling mengaisihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit, sebagaimana pernah anda ikrarkan ketika mengawali hidup berkeluarga. Dari suami-isteri atau bapak-ibu yang setia juga akan lahir anak-anak yang setia: ketika mereka tumbuh berkembang menjadi dewasa, entah terpanggil untuk hidup berkeluaga, imamat atau membiara, juga akan setia pada panggilan dan tugas pengutusannya.

· “Setelah kamu menyeberangi sungai Yordan dan sampai ke Yerikho, berperanglah melawan kamu warga-warga kota Yerikho, orang Amori, orang Feris, orang Kanaan, orang Het, orang Girgasi, orang Hewi dan orang Yebus, tetapi mereka itu Kuserahkan ke dalam tanganmu. Kemudian Aku melepaskan tabuhan mendahului kamu dan binatang-binatang ini menghalau mereka dari depanmu, seperti kedua raja orang Amori itu. Sesungguhnya, bukan oleh pedangmu dan bukan pula oleh panahmu”(Yos 24:11-12). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Di dalam hidup sehari-hari, entah di dalam keluarga, temapat kerja atau masyarakat, kiiranya kita sering menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah. Hendaknya kita tidak mengatasi atau menghadapi semua itu dengan kekerasan dalam bentuk apapun, melainkan dengan dan dalam iman, harapan dan kasih. Semua ciptaan di dunia ini ada, tumbuh dan berkembang hanya karena dan oleh kasih, maka sikapilah semuanya dalam dan oleh kasih. Entah orang atau sesama manusia atau binatang yang nampak seram dan menakutkan ketika disikapi dan dihadapi dalam dan oleh kasih, maka mereka pasti akan menjadi sahabat. Kasih berasal dari Allah, maka ketika kita mengasihi orang lain berarti kita hidup dan bersama dengan Allah, dan bersama atau bersatu dengan Allah tiada ketakutan atau kekhawatiran dalam menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah. Ingat dan kenangkan para bapak-ibu atau suami-isteri, bukanlah anda memiliki pengalaman konrkret sejak kenal pertama saling mendekati dalam dan oleh kasih; ingat dan kenangkan masa pacaran atau tunangan anda, dan kemudian hayati kembali semangat atau jiwa hidup masa pacaran dan tunangan tersebut pada masa kini.



“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” (Mzm 136:1-3)



Jakarta, 14 Agustus 2009 .













ingin berkomentar lebih jauh anda dapat mengirim email ke danielbaraparatu@rocketmail.com
Kalau ada komentar dari anda silahkan klik comments

13 Agst

“Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?”

(Yes 3:7-10a.13-17; Mat 18:21-19:1)



“Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.”(Mat 18:21-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.



Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Entah sudah berapa kali kita telah menyakiti atau melukai saudara-saudari kita dan kita dibiarkan saja alias diampuni serta tidak diingat-ingat perbuatan kita yang menyakiti atau melukai tersebut. Pada masa kanak-kanak kiranya kita telah merepotkan dan menyusahkan alias menyakiti orang lain terutama ibu kita masing-masing dan kita menerima kasih pengampunan. Dengan kata lain masing-masing dari kita hemat saya telah menerima kasih pengampunan dari Tuhan melalui sesama dan saudara-saudari kita secara melimpah ruah, maka perintah Yesus agar kita mengampuni saudara-saudari kita yang bersalah sampai tujuh kali tujuh puluh alias terus menerus tiada henti, hemat saya mudah kita laksanakan jika kita berani dengan rendah hati mengimani dan menghayati kasih pengampunan yang telah kita terima. Maka marilah kita hdup dan bertindak dalam kasih pengampunan, jika kita mendambakan hidup damai sejahtera, bahagia lahir dan batin. Kita imani dan hayati doa ini: “Berkat kuasaMu juga, cinta mengalahkan kebencian, ampun menaklukkan balas dendam dan saling kasih mengenyahkan perselisihan”(Prefasi DSA VI). Kebencian, balas dendam dan perselisihan masih marak di sana-sini di dalam kehidupan kita sehari-hari, yang disebabkan oleh berbagai bentuk egoisme dan perbedaan. Untuk menghayati cinta, saling kasih dan ampun tersebut hendaknya pertama-tama kita lihat dan akui apa-apa yang baik dalam saudara-saudari kita yang bersalah atau berdosa. Kami percaya bahwa apa-apa yang baik lebih banyak daripada yang tidak baik atau buruk di dalam diri kita masing-masing. Dengan melihat dan mengakui apa yang baik kiranya dengan mudah kita mencintai mereka yang membenci kita, mengasihi mereka yang sedang berselisih dan mengampuni mereka yang dendam terhadap kita. Marilah kita meneladan Yesus yang dalam puncak penderitaanNya di kayu salib mendoakan dan mengampuni mereka yang menyalibkanNya:” Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."(Luk 23:34) . .

· "Kamulah yang memusnahkan kebun anggur itu, barang rampasan dari orang yang tertindas tertumpuk di dalam rumahmu.Mengapa kamu menyiksa umat-Ku dan menganiaya orang-orang yang tertindas?" demikianlah firman Tuhan ALLAH semesta alam”(Yes 3:14-15).Firman ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Mungkinkah kita menjadi pengumpul barang rampasan atau menganiaya orang-orang yang tertindas? Jawabannya adalah ‘mungkin’. Sebagai contoh pembantu rumah tangga dipaksa bekerja keras padahal mereka hanya menerima imbal jasa kecil, buruh-buruh diperas oleh para pengusaha, anak-anak dimarahi seenaknya dst.. Memang mereka yang tertindas dan teraniaya pada umumnya tidak berteriak atau melawan karena takut akan terjadi penindasan atau penganiayaan yang lebih keras dan kejam. Para penguasa dan orang-orang kaya juga sering seenaknya memusnahkan hutan dan bukit-bukit hijau dem keserakahan mereka, antara lain dengan membabati pohon di hutan seenaknya serta membetoni tanah dan lahan pegunungan dan bukit untuk villa-villa mewah dan megah. Pengalaman telah menunjukkan bahwa karena penganiayaan, penindasan dan keserakahan tersebut telah terjadi banyak korban manusia dan harta benda yang tak terhitung jumlahnya serta mengakibatkan penderitaan banyak orang, antara lain karena banjir bandang maupun pemanasan global. Kami berharap dan mendambakan mereka untuk bertobat alias meninggalkan penganiayaan, penindasan dan keserakahan yang telah dilakukannya. Tentu saja pertobatan juga harus disertai dengan perbuatan konkret antara lain mohon pengampunan kepada mereka yang telah menjadi korban penganiayaan, penindasan atau keserakahan serta memperbaiki hidup mereka agar sejahtera. Apa yang telah anda rampas dari mereka hendaklah dikembalikan, dan selanjutnya hendaklah hidup sederhana serta dijiwai oleh kasih pengampunan.



“Laut melihatnya, lalu melarikan diri, sungai Yordan berbalik ke hulu. Gunung-gunung melompat-lompat seperti domba jantan, dan bukit-bukit seperti anak domba. Ada apa, hai laut, sehingga engkau melarikan diri, hai sungai Yordan, sehingga engkau berbalik ke hulu, hai gunung-gunung, sehingga kamu melompat-lompat seperti domba jantan, hai bukit-bukit, sehingga kamu seperti anak domba “ (Mzm 114:3-6)



Jakarta, 13 Agustus 2009











ingin berkomentar lebih jauh anda dapat mengirim email ke danielbaraparatu@rocketmail.com
Kalau ada komentar dari anda silahkan klik comments

12 Agst

“Apabila saudaramu berbuat dosa tegorlah dia di bawah empat mata”

(Ul 34:1-12; Mat 18:15-20)



"Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”(Mat 18:15-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.



Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Ketika ada dua atau tiga orang berkumpul, pada umumnya mereka dengan mudah omong-omong atau berbincang-bincang tentang orang lain yang tidak berada di tengah-tengah mereka, alias ngrumpi atau ngrasani. Isi ngrumpi atau ngrasani pada umumnya adalah kesalahan atau kekurangan orang lain tersebut, dan yang sering terjadi kesalahan atau kekurangan kecil dibesar-besarkan serta menjadi bahan sendau-gurau. Hal itu berarti terjadi pelecahan terhadap harkat martabat orang lain, dengan dengan demikian kebersamaan mereka berada dalam kuasa atau pengaruh setan/roh jahat. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita agar kita berkumpul dan omong-omong hendaknya di dalam Tuhan, yang antara lain berarti tidak membicarakan kesalahan atau kekurangan orang lain. Sekiranya saudara kita berdosa atau salah kita dipanggil untuk menegor dia di bawah empat mata, alias langsung kepada yang bersangkutan. Peringatan atau ajakan ini juga berarti kita dipanggil untuk melokalisir masalah, kekurangan atau kelemahan orang lain dan tidak menyebarluaskan atau memperbesar. Ketika menegor mereka yang salah atau berdosa hendaknya dengan rendah hati dan cintakasih, sebagaimana dinasihatkan oleh St.Ignatius Loyola ini: “ Setiap orang kristiani yang baik tentu lebih bersedia membenarkan pernyataan sesamanya daripada mempersalahkannya. Jika tak dapat dimengerti, yang menyatakan hendaknya ditanya apakah yang dimaksudkan; dan jika dia salah, hendaknya dibetulkan dengan cintakasih, dan jika itu belum cukup, hendaklah digunakan segala upaya yang sesuai, supaya sampai pada pemahaman yang benar, dan dengan demikian dijauhkan dari kesalahan” (St.Ignatius Loyola, LR no 22). Kita semua dipanggil untuk hidup dan bertindak dijiwai oleh kasih pengampunan.

· "Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu. Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana."(Ul 34:4), demikian firman Tuhan kepada Musa, dan setelah mendengarkan firman itu Musa meninggal dunia. Musa hanya diberi kesempatan untuk melihat dan tidak untuk mendiami atau menikmati ‘tanah terjanji’ Apa yang terjadi dalam diri Musa ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi bagi para orangtua maupun guru/pendidik, yang bertugas mendidik, mendampingi atau membina anak-anak. Ingat dan hayati bahwa anda mendidik anak-anak demi 15 atau 20 tahun yang akan datang, dimana mereka telah tumbuh berkembang menjadi dewasa dan kemungkinan anda sudah meninggal dunia atau sudah tua dan tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Anda tidak akan mungkin menikmati apa yang akan dinikmati oleh anak-anak nanti dan paling hanya dapat melihat atau mendengarkan. Maka yang penting dan utama bagi orangtua atau guru/pendidik adalah.mendidik anak-anak sedemikian rupa sehingga pada waktunya anak-anak nanti dapat hidup dan berfungsi dengan baik dalam kehidupan bersama. “Lihat” ke a rah 15 atau 20 tahun yang akan datang kira-kira macam apa, dan untuk itu mungkin kita dapat bercermin pada 15 atau 20 tahun yang lalu. Bukanlah telah terjadi perubahan dan perkembangan besar atau luas biasa selama 15 atau 20 tahun yang telah lewat. Memang yang ‘abadi’ di dunia ini adalah perubahan, maka hendaklah anak-anak dibina dan dididik untuk menjadi tanggap, terampil dan siap sedia mengahadapi aneka perubahan dan perkembangan yang terjadi. Dengan kata lain didik dan dampingi anak-anak agar memiliki kerendahan hati dan keterbukaan serta siap sedia untuk berubah atau dirubah.



“Marilah, dengarlah, hai kamu sekalian yang takut akan Allah, aku hendak menceritakan apa yang dilakukan-Nya terhadap diriku.Kepada-Nya aku telah berseru dengan mulutku, kini dengan lidahku aku menyanyikan pujian” (Mzm 66:16-17)



Jakarta, 12 Agustus 2009











ingin berkomentar lebih jauh anda dapat mengirim email ke danielbaraparatu@rocketmail.com
Kalau ada komentar dari anda silahkan klik comments

11 Agst

"Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"

(Ul 31:1-8; Mat 18:1-5.10.12-14)

“Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga. "Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang."(Mat 18:1-5.10.12-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini



Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Klara, perawan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· “Selamat tinggal ibu tersayang”, demikian kata-kata Klara sambil meninggalkan istana yang gemerlapan di Assisi, untuk mengkuti jejak Fransiskus, yang hidup miskin dan meninggalkan kemewahan duniawi serta hanya mau mengabdi Tuhan saja. Klara, gadis yang cantik dan perawan, berkehendak untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan kiranya menghayati sabda Yesus “Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga”. Dalam perkembangan selanjutnya Klara akhirnya mendirikan ‘Ordo’ yang kemudian dikenal dengan ‘Ordo Klaris’, para suster kontemplatif atau pertapa. Ia kiraanya juga meneladan Yesus “yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.”(2Kor 8:9). Penghayatan keutamaan kemiskinan dan kerendahan hati bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan. Orang yang menghayati keutamaan kemiskinan akan diperkaya atau menjadi kaya akan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan yang menyelamatkan dan membahagiakan. Maka dalam rangka mengenangkan St.Klara, yang telah mempersembahkan keperawanannya, harta yang paling berharga bagi remaja putri, kami mengharapkan rekan-rekan remaja putri dengan rendah hati berani meneladan St.Klara, mininggalkan aneka kemewahan dan gemerlapan dan kemudian hidup miskin serta mengikuti Tuhan Allah saja. Dengan kata lain kami berharap semoga banyak remaja putri yang tergerak untuk hidup membiara atau menjadi suster dan kemudian mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui aneka karya pelayanan bagi masyarakat umum, misalnya karya kesehatan atau pendidikan.

· “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”(Ul 31:6), demikian kutipan firman Tuhan kepada Musa. Kutipan ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi siapapun yang telah menentukan atau memilih jalan hidup terpanggil, entah menjadi imam, biarawan, biarawati atau hidup tak menikah maupun hidup menikah atau berkelaurga. Apa yang telah dipilih atau ditentukan pada umumnya disadari dan dihayati sebagai anugerah atau panggilan Tuhan, maka hendaknya “janganlah takut dan jangan gemetar, sebab Tuhan Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau”. Dengan kata lain hendaknya setia pada panggilan meskipun untuk itu harus menghadapi aneka tantangan dan hambatan serta menuntut pengorbanan dan perjuangan. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24). Secara khusus kami mengingatkan dan mengajak rekan-rekan remaja putri untuk tetap setia sebagai perawan alias tidak berhungan seks sebelum hidup berkeluarga atau membiara. Maka hendaknya sering berdoa baik kepada Bunda Maria maupun dengan perantaraan St.Klara agar tetap sstia sebagai perawan. Kami juga berharap rekan-rekan remaja putri tidak menghadirkan atau menampilkan diri sedemikian rupa sehingga merangsang laki-laki mata keranjang untuk berbuat amoral atau jahat.



“Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayahmu, maka ia memberitahukannya kepadamu, kepada para tua-tuamu, maka mereka mengatakannya kepadamu.Ketika Sang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada bangsa-bangsa, ketika Ia memisah-misah anak-anak manusia” (Ul 32:7-8)



Jakarta, 11 Agustus 2009











ingin berkomentar lebih jauh anda dapat mengirim email ke danielbaraparatu@rocketmail.com
Kalau ada komentar dari anda silahkan klik comments

10 Agt

“Barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini ia akan memeliharanya untuk hidup kekal”

(2Kor 9:6-10; Yoh 12:24-26)



“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa” (Yoh 12:24-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.



Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Laurensius, diakon dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· “Ketika gubernur memerintahkan supaya ia menyerahkan keuangan keuskupan, Larensius mengumpulkan para fakir miskin dan menjawab ‘Tuanku, inilah harta kekayaan Gereja!’. Seketika itu juga ia dibakar hidup-hidup di atas pemanggangan” (Yayasan Cipta Loka Caraka: Ensiklopedi Orang Kudus, hal 191).. Tugas diakon pada waktu itu antara lain memang mengurus atau mengelola harta benda Gerejawi. Harta benda Gerejawi antara lain adalah harta benda yang dimiliki atau dikuasai oleh badan publik Gerejwi seperti keuskupan/paroki, yayayan-yayasan pendidikan, kesehatan dan sosial. Harta benda tersebut berasal dari Umat Allah yang telah rela memperembahkan sebagian harta kekayaannya bagi orang lain. Pada umumnya mereka yang rela mempersembahkan sebagian harta kekayaannya adalah mereka yang sungguh beriman, dimana cara hidup dan cara bertindaknya dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan alias menghayati semangat kemartiiran dalam hidup sehari-hari, atau ‘tidak mencintai nyawanya di dunia ini’. Dalam hukum Gereja dikatakan bahwa harta benda Gerejawi hendaknya difungsikan atau digunakan untuk mendukung kegiatan ibadat, hidup para klerus serta pembantu-pembantunya serta karya amal kasih bagi mereka yang miskin dan berkekurangan. Maka dengan ini kami berharap kepada mereka yang bertugas mengururus atau mengelola harta benda Gerejawi, entah di keuskupan/paroki atau yayasan-yayasan untuk memfungsikan harta benda atau uangnya demi pembinaan iman umat serta amal kasih bagi mereka yang miskin dan berkekurangan. Dengan kata lain hendaknya para pengelola atau pengurus harta benda/uang bersikap mental sosial, tidak korupsi dan hanya mementingkan keinginan sendiri. Pengelolaan atau pengurusan harta benda atau uang dengan baik, jujur, tertib, disiplin, teratur, dst… pada masa kini rasanya dapat menjadi bentuk penghayatan kemartirnan hidup beriman. Urus dan kelolalah harta benda/uang sesuai dengan prisnip ‘intentio dantis’/’maksud pemberti’: harta benda/uang keuskupan/paroki demi hidup umat Allah, harta benda/uang yayasan demi semakin marak, menarik dan memikat pelayanan yang dijalankan oleh yayasaan,, dst..

· “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2Kor 9:6-7). “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukahati”, kutipan inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan. Hidup dan segala sesuatu yang menyertaii hidup kita atau yang kita kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah anugerah Allah, yang kita terima melalui orang lain atau sesama kita yang telah ‘memberi dengan sukacita’, tanpa paksaan. Maka selayaknya dan sepantasnya jika hidup dan segala sesuatu yang kita miliki atau kuasai sampai saat ini, misalnya kesehatan, keterampilan, kecerdasan, aneka sarana-prasarana, uang, relasi, dst.. kita persembahkan kepada Allah seutuhnya melalui saudara-saudari atau sesama kita. Semakin memberi atau mempersembahkan diri lebih banyak, maka juga akan memperoleh anugerah lebih banyak. Dengan kata lain marilah kita saling memberikan diri atau mempersembahkan diri satu sama lain di dalam hidup sehari-hari, dalam cara hidup dan cara bertindak kita dengan rela hati dan sukacita. Jauhkan aneka macam bentuk keserakahan akan harta benda atau uang, misalnya ‘menumpuk atau menyimpan harta benda/uang untuk tujuh turunan’, sehingga cukup banyak orang tidak memperoleh bagian alias menjadi miskin dan berkekurangan. Sekiranya tidak ada orang serakah, rasanya di dunia ini tidak akan ada lagi yang miskin dan berkekurangan, kurang makan dan minum atau menjadi gelandangan. Semoga mereka yang serakah dengan rela hati bertobat, dan hidup sederhana, tidak berfoya-foya.



“ Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya. Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN. Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya”(Mzm 112:5-8) .

Jakarta, 10 Agustus 2009










ingin berkomentar lebih jauh anda dapat mengirim email ke danielbaraparatu@rocketmail.com
Kalau ada komentar dari anda silahkan klik comments

9 Agst

HR SP Maria diangkat ke sorga: Why 11:19a; 12:1.3-6a.10ab; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56

“Berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”



“Sementara itu Bunda Yesus telah dimuliakan di sorga dengan badan dan jiwanya, dan menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang. Begitu pula di dunia ini ia menyinari Umat Allah yang sedang mengembara sebagai tanda harapan yang pasti dan penghiburan, sampai tibalah hari Tuhan” (Vatkan II: LG no 68).



Ketika saya bertugas sebagai Ekonom Keuskupan Agung Semarang dan pada waktu itu juga menjadi penasihat pembangunan gua Maria Kerep-Ambarawa, Jawa Tengah, ada beberapa ibu dari paroki Ambarawa datang kepada saya dengan maksud mohon rekomendasi. Rekomendasi yang dimaksudkan adalah hak dan syukur monopoli untuk berjualan aneka macam souvenir dan makanan maupun minuman di sekitar tempat perziarahan. Maklum saat itu sedang berkembang tempat perziarahan tersebut. Tentu saja saya tidak akan memberi rekomendasi yang diharapkan. Kepada mereka saya jelaskan, kurang lebih sebagai berikut: “Bunda Maria adalah Bunda Yesus, Penyelamat Dunia, teladan bagi siapapun yang beriman kepada Yesus Kristus. Kehadiran tempat peziarahan Buinda Maria hendaknya juga berfungsi untuk menyelamatkan ‘dunia/lingkungan hidup’ sekitarnya, tanpa pandang bulu, SARA. Kehadiran peziarahan Bunda Maria hendaknya juga mensejahterakan dan membagiakan dunia dan lingkungan hidup sekitarnya”.



“Berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45 )



Kutipan di atas ini adalah pujian Elisabeth kepada Bunda Maria, yang keduanya sedang mengandung seorang anak karena rahmat Allah atau Roh Kudus. Mendengar pujian tersebut Bunda Maria tidak menjadi sombong, melainkan semakin rendah hati dan mendaraskan Kidung Magnificat, kidung populer bagi umat beriman Dalam kidung Magificat dapat direnungkan dua bagian/ujud besar dari orang beriman yang rendah hati, yaitu: kesadaran dan penghayatan akan Allah yang berkarya dalam manusia yang lemah, rapuh dan rendah hati serta Allah yang menjungkir-balikkan paradigma dunaiawi. Maka baiklah di bawah ini saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri bercermin pada isi Kidung Magnificat tersebut:

1). “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus”.(Luk 1:49 )

Kita semua adalah ciptaan Allah, hidup dan segala sesuatu yang kita miliki atau kuasai serta nikmti sampai saat ini adalah anugerah Allah yang kita terima melalui saudara-saudari kita yang baik hati. Maka selayaknya kita hidup dan bertindak dengan penuh syukur dan terima kasih kepada Allah dan hal itu kita wujudkan kepada saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Hidup penuh syukur dan terima kasih berarti senantiasa gembira, ceria, segar-bugar dan dinamis, serta suka membantu orang lain dalam keadaan dan kondisi apapun dan dimanapun. Apa yang dikehendaki oleh Tuhan melalui dirinya pasti akan terlaksana dan yang bersangkutan akan hidup mulia dan berbagia untuk selamanya di sorga setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan.

2). “Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa”(Luk 1:51 -53)

Mereka yang congkak hati alias sombong, gila akan kuasa dan kedudukan serta harta benda akan dijungkir-balikkan alias diporak-porandakan, sehingga yang bersangkutan akan menderita sengsara untuk selamanya. Maka hendaknya jangan sombong, gila akan kuasa dan kedudukan maupun harta benda yang bersifat sementara. Semuanya itu tidak akan anda bawa ketika anda dipanggil Tuhan atau meninggal dunia.

Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk meneladan Bunda Maria, teladan umat beriman, yang percaya sepenuhnya kepada Tuhan atau Penyelenggaraan Ilahi. Marilah kita hayati iman kita dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari, dengan dambaan bahwa setelah meninggal dunia kita juga akan hidup mulia dan berbahagia selamanya di sorga.



“Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus”(1Kor 15:21 -22)



Bunda Maria senantiasa ‘dalam persekutuan dengan Kristus’, karena ia yang mengandung, melahirkan dan mendampingi Yesus, bahkan berada di kaki salib Yesus. Maka jika kita mendambakan untuk hidup bahagia dan damai sejahtera, hendaknya kita senantisa “dalam persekutuan dengan Kristus”, hidup dan bertindak sesuai dengan cara hidup dan cara bertindak Yesus Kristus, menghayati sabda-sabdaNya, dengan kata lain kita menjadi ‘alter Christi’. Kita tinggalkan cara hidup dan cara bertindak yang hanya mengikuti keinginan atau kehendak sendiri alias seenaknya sendiri, dan hidup serta bertindak sesuai dengan aturan dan tatanan hidup yang terkait dengan panggilan atau tugas pengutusan kita masing-masing.



Kami berharap dan mendambakan para ibu atau perempuan untuk meneladan Bunda Maria, yang senantiasa “dalam persekutuan dengan Kristus”, sehingga cara hidup dan cara bertindaknya membawa siapapun yang bergaul dengannya atau hidup bersamanya kepada Allah. Lebih-lebih para ibu, semoga melahirkan anak laki-laki yang siap sedia “dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya”, sebagaimana digambarkan dalam kutipan dari kita Wahyu ini:“Ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya.”(Why 12:5).



Pada “Tahun Imam” ini kami berharap para ibu atau orangtua dengan rendah hati berani merelakan anaknya laki-laki yang tergerak untuk mengikuti panggilan menjadi imam. Maklum sering terjadi bahwa anaknya laki-laki ingin menjadi imam, tetapi orangtua sering tidak rela atau menghalanginya. Kami berharap keluarga-keluarga katolik dapat menjadi tempat persemaian benih-benih panggilan untuk menjadi imam, bruder atau suster. Untuk hendaknya seluruh anggota keluarga hidup dan bertindak terarah “kepada Allah dan ke takhta-Nya” , sehingga cara hidup dan cara bertindak semua anggota keluarga memikat dan menarik bagi orang lain. Orangtua atau bapak-ibu hendaknya menjadi teladan hidup dan bertindak yang terarah “kepada Allah dan ke takhta-Nya” , hidup dan bertindak tidak secara materialistis atau bersikap mental bisnis, melainkan bersikap mental sosial. Kita semua dipanggil untuk tumbuh berkembang menjadi ‘man or woman with/for others’, sehingga setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan nanti kita hidup mulia di sorga bersama Allah untuk selama-lamanya. Para orangtua, khususnya para ibu kami harapkan meneladan Bunda Maria, yang telah mempersembahkan Yesus demi keselamatan seluruh dunia.



“Di sebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir.Dengarlah, hai puteri, lihatlah, dan sendengkanlah telingamu, lupakanlah bangsamu dan seisi rumah ayahmu! Biarlah raja menjadi gairah karena keelokanmu, sebab dialah tuanmu” (Mzm 45:10b-12b) .



Jakarta , 9 Agustus 2009










ingin berkomentar lebih jauh anda dapat mengirim email ke danielbaraparatu@rocketmail.com
Kalau ada komentar dari anda silahkan klik comments

8 Agst

“Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat”

(Ul 6:4-13; Mat 17:14-20)



“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya: "Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya." Maka kata Yesus: "Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!" Dengan keras Yesus menegor dia, lalu keluarlah setan itu dari padanya dan anak itu pun sembuh seketika itu juga. Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?" Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu” (Mat 17:14-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Dominikus, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· St.Dominikus dikenal sebagai pengkotbah ulung dan mendirikan Ordo Para Pengkotbah/Dominikan. Ia mewartakan apa yang benar sebagaimana diwartakan oleh Injil serta mengembalikan orang kepada kepercayaan atau iman yang benar atau mempertobatkan yang tersesat. Kiranya Dominikus menghayati sabda Yesus ini: “Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pergilah dari tempat ini ke saa – maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu”. Iman memang merupakan rahmat kekuatan dari Allah yang handal dan penuh kuasa untuk mengusir aneka macam bentuk kejahatan atau godaan setan. Orang yang sungguh beriman pada umumnya sehat wal’afiat dan segar bugar baik secara jasmani maupun rohani, sedangkan mereka yang kurang atau tidak beriman pada umum mudah jatuh sakit atau sakit-sakitan melulu, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh. Maka marilah kita mawas ini: seberapa dalam, kuat dan tangguh iman kita kepada Allah serta kita hayati dalam hidup kita sehari-hari. “Tak ada yang mustahil bagimu” jika anda beriman. Nah, mungkin kita memiliki cita-cita, harapan atau dambaan, maka percayalah akan terwujud jika kita sungguh beriman. Sungguh beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya pada panggilan dan tugas pengutusan atau kewajiban alias bekerja keras dan sepenuh hati, jiwa, akal budi dan tenaga dalam melaksanakan tugas pengutusan atau menghayati panggilan, tidak main-main atau seenaknya dalam hidup dan bekerja. “Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka- Jakarta 1997, hal 10).

· “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”(Ul 6:5-7). Kutipan ini hemat saya merupakan perintah moral yang cukup jelas, dan memang mungkin sulit untuk dilaksanakan atau dihayati. Kita semua dipanggil untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan, dan tentu saja kasih tersebut juga harus menjadi nyata dalam relasi dengan saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Orangtua atau bapak-ibu hendaknya menjadi teladan dalam saling mengasihi sebagaimana pernah dijanjikan ketika saling menerimakan sakramen perkawinan, saling berjanji untuk mengasihi sampai mati. Keteladanan orangtua merupakan wahana pengajaran atau pendidikan kepada anak-anaknya, dan dari keteladanan dapat berkembang ke pembicaraan atau omongan, maka “hauslah engkau mengajarkannya berulang-ulan kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”, alias kapan saja dan dimana saja. Yang diajarkan atau dibicarakan adalah kasih, yaitu “sabar, murah hati; tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri., tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran” (lih 1Kor 13:4-6)

·

"Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku!Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku! Terpujilah TUHAN, seruku; maka aku pun selamat dari pada musuhku”(Mzm 18:2-4)



Jakarta, 8 Agustus 2009










ingin berkomentar lebih jauh anda dapat mengirim email ke danielbaraparatu@rocketmail.com
Kalau ada komentar dari anda silahkan klik comments

7 Agst

"Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya”

(Ul 4:32-40; Mat 16:24-28)



“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.”(Mat 16:24-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.



Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Jika kita mendambakan keselamatan abadi kita diharapkan siap-sedia untuk ‘menyangkal diri dan kehilangan nyawa’, alias tidak egois, hidup dan bertindak mengikuti selera pribadi, mengikuti keinginan atau kehendak pribadi. Rasanya pada masa kini masih cukup banyak orang yang hidup dan bertindak lebih mengikuti selera atau keinginan pribadi, antara lain dapat dilihat dalam buah-buahnya yaitu tawuran, permusuhan, saling menyakiti atau membunuh. Marilah kita ‘menyangkal diri dan berani menyerahkan nyawa’ kepada orang lain melalui cara hidup dan cara bertindak kita. “Nyawa” adalah gairah, semangat, cita-cita, harapan atau dambaan, yang membuat kita sungguh hidup dinamis, bergairah dan ceria. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan antara lain dapat kita temukan dalam aneka aturan atau tatanan hidup yang terkait dengan panggilan, tugas pengutusan atau kewajiban dan pekerjaan kita masing-masing. Semua aturan dan tatanan hidup hemat saya dibuat dan diberlakukan berdasar dan dalam kasih, maka baiklah kita hayati dan sebarluaskan keutamaan kasih melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13:4-7)

· “Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa TUHANlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. Dari langit Ia membiarkan engkau mendengar suara-Nya untuk mengajari engkau, di bumi Ia membiarkan engkau melihat api-Nya yang besar, dan segala perkataan-Nya kaudengar dari tengah-tengah api” (Ul 4:35-36), demikian pesan kepada bangsa terpilih yang sedang berada di dalam perjalanan menuju tanah terjanji. Kita semua juga sedang dalam perjalanan menuju ‘tanah terjanji’, yaitu hidup mulia di sorga setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Di tengah-tengah perjalanan kita kiranya juga ada ‘api’ yang menerangi dan menyemangati perjalanan kita menuju ‘tanah terjanji’. Api itu antara lain nampak dalam diri sesama dan saudara-saudari kita yang hidup dan bertindak dengan bergairah, dinamis dan bersemangat karena dan oleh kasih. Marilah kita lihat dan imani apa yang mereka lakukan dan katakan, dan kemudian kita meneladan cara hidup dan cara bertindak mereka serta menghayati aneka macam nasihat, saran dan petunjuk yang mereka katakan kepada kita. Kiranya di tengah-tengah kita cukup banyak orang yang dinamis, bergairah dan bersemangat di dalam mengasihi atau ‘memberikan nyawa / mempersembahkan diri seutuhnya’ demi keselamatan dan kebahagiaan sesamanya. Hendaknya kita juga saling mempersembahkan diri satu sama lain dalam cara hidup dan cara bertndak kita dimanapun dan kapanpun, agar kehidupan bersama sungguh bahagia, damai sejahtera, menarik dan memikat bagi siapapun yang menyaksikannya. Kita juga diharapkan hanya percaya kepada Allah saja serta memfungsikan aneka macam kekayaan atau milik kita sedemikian rupa sehingga kita semakin percaya kepada Allah. Aneka macam bentuk harta benda atau uang hendaknya difungsikan agar kita semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari.



“Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami? Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa “

(Mzm 77:12-15)

Jakarta, 7 Agustus 2009








ingin berkomentar lebih jauh anda dapat mengirim email ke danielbaraparatu@rocketmail.com
Kalau ada komentar dari anda silahkan klik comments